Jumat, 22 Mei 2015

Beloved Teacher 2

         Ana mengetuk pintu kamar kos Tara. Mereka kesiangan masuk sekolah. Hari ini ada upacara, semua sudah rapi. Beberapa menit yang lalu Tara dan Ana sudah memasuki barisan guru tepat di hadapan para murid. Setelah upacara selesai, Pak Gio selaku kepala sekolah menyuruh Tara untuk mendata anak-anak yang tadi telat datang dan masih berada di luar gerbang. Tara langsung menjalankan tugas tersebut. Ia mendapati Dean berada di barisan terakhir di daftar nama yang ia buat.
"Kamu ya, tiap hari terlambat" kata Tara sambil mencatat. Sepertinya ia tidak perlu lagi menanyakan nama Dean.

"Bu, jangan tulis nama saya dong. Saya bakal turutin permintaan Ibu deh, tapi saya jangan dimasukkin daftar. Saya males berurusan ama kepsek botak itu" bisik Dean. Tara memandanginya tidak setuju. Dia berlalu begitu saja. Dasar guru kaga bisa diajak kompromi, benak Dean. Kepsek memanggil satu per satu murid yang ada di daftar sehingga Dean masuk pelajaran ketiga yaitu jam pertama pelajaran Ekonomi.
         Tara menyuruh Dean cepat duduk. Ia memberikan tugas pada murid dalam waktu 30 menit. Yang tidak selesai disuruh bikin biodata guru yang ada di sekolah ini. Jelas aja, pasti ada yang nggak selesai dalam 30 menit. Dean yang terlambat 3 menit pun ditolak sama Tara. Ada 30 guru yang mengajar di sekolah ini belum termasuk guru praktikum. Sedangkan guru pratikumnya ada 5 yaitu Biologi, Matematika, Ekonomi, Bahasa Indonesia, dan Fisika. Adit sekawanan dengan Dean mendapat 8 biodata guru yang harus ia temui. Sammy kedapetan 5 guru sedangkan Dean dapat 3 guru. 1 minggu lagi dikumpul.
          Halaman belakang rumah Dean sekarang rame dengan kawanannya. "Sial..sialll!!" Dean terus merutuki dirinya karena harus menanyakan guru perihal biodata. Menurutnya itu adalah kerjaan anak SD. Teman-temannya hanya menertawakannya.
"Mending lu minta biodatanya si Tara aje" usul Galih.
"Atau nggak si Tono. Kan rada bego juga tuh ditanyain nya" tambah Bian.
"Tau ah liat besok aja" kata Dean dengan wajah bete. Keesokan harinya. Dean memohon-mohon untuk minta biodata guru-guru dari TU. Tapi TU sudah berjanji pada Tara untuk nggak mempermudah mereka mendapatkannya. Dean menghampiri Ana, namun Ana enggan memberikannya. Katanya sih takut kos'annya disamperin Dean dkk. Berganti pada Fabri, guru praktikum Matematika. Fabri jelas merahasiakannya, guru praktikum ganteng ini takut nomor handphonenya bocor ke murid perempuannya. Sumpah PEDE banget!! Benak Dean. Berlabuh pada Mr. Rahaja dia adalah guru Bahasa Inggris. Dia nggak mau ngasih karena buat dia semua itu nggak ada untungnya. Kembali ke guru praktikum, kali ini Ester si guru Bahasa Indonesia punya alasan takut dikerjain kalo ulang tahunnya ketauan murid-murid. Akhirnya, Dean putus asa pada hari ke empat. Segitu teganya mereka nggak mau kasih gue kesempatan apa! Brengsek!!!! Rutuk Dean. Hari ini, dia menuju meja Tara di ruang guru, ia menggebrak meja Tara, kebetulan ruang guru sepi banget cuma tinggal Tara sendiri.
"Ibu pengaruhin guru-guru di sini ya? Mereka nggak ada yang mau ngasih tau biodatanya ke saya."
"Kok kamu ngomel. Ini kan hukuman buat kamu! Kalo kamu nggak dapetin yauda kamu cari tau aja sendiri tentang mereka secara diam-diam. Gitu aja kok repot" jelas Tara sinis
"Jadi gue harus ikutin jalan ke rumah mereka, terus gue diem-diem ke ruang kepsek buat tau ultah mereka, terus gue harus ngadain pedekate buat dapetin nomor handphone mereka begituuuu kaaahhh?" kata Dean dengan gaya yang sangat tidak sopan.
"Untung ya di sini nggak ada guru lain, cepet kamu pergi!" Dean pun pergi menuju kelasnya.
           Bel pulang sekolah telah berbunyi. Dean bersiap mengikuti jejak Ana untuk mengetahui alamat rumahnya dannnnnn.. BERHASIL!! Sekarang Dean tau dimana rumah tuh guru.
"Hati-hati ya Bu, suatu hari nanti saya bakal main ke sana!"
Dia pulang dengan penuh semangat. Dia mencoba menghubungi kantor TU.
"Ekhm.Ekhm.. Halo selamat siang, Bu. Saya butuh nomor handphone Ibu Ana dan Pak Fabri. Saya ada perlu untuk mengurus nilai Biologi dan Matematika anak saya Dean. Saya ingin minta mereka menambahkan jam khusus untuk Dean. Bisa Bu?" setelah bermenit-menit kemudian......
"Nama udah, alamatnya udah, nomor handphone udah. Besok tinggal cari tanggal lahirnya nih!!" Dean langsung membaringkan diri di ranjangnya.
           Jemari Dean mulai bergerak, ada respon baik dari gerakan tubuh Dean. Tara terbangun dari tidurnya, kemudian memanggil suster lewat tombol di dekat ranjang. Suster pun datang, setelah pemeriksaan kecil. Suster bilang...
"Ini hanya respon baik dari pasien, menandakan ada perubahan baik dalam kondisinya, nanti akan diperiksa lebih lanjut lagi sama dokter. Sekarang dokternya lagi keluar." jelas suster kemudian pergi.
"Dey, aku kangen kamu. Kapan kamu bangun? Kapan lagi kamu bisa jail sama aku? Aku kangen gombalan kamu, aku kangen pelukan kamu" Tara menarik nafas panjang. Pintu terbuka, Adit dan Galih masuk ke ruangan.
"Tar, lu balik aje, kita gantian jagain Dean" kata Galih.
"Gue masih mau di sini"
"Tapi Tar, si Mother bilang lu harus pulang entar malem Mother ke sini gantian jagain Dean" jelas Adit. Ya.. Mereka memanggil mamanya Dean dengan sebutan Mother. Akhirnya Tara pun kembali ke rumahnya. Sesampainya ia di rumah, dia mendapati kamarnya berantakan. Pasti kerjaannya Sasha, keponakannya yang lagi nginep di sini bareng kakak perempuannya. Dia merapikan tumpukan kertas yang berserakan di lantai. Ia menemukan lembaran kertas hukuman Dean. Dia tertawa kecil.
         Di kantin, Dean berlari pelan untuk sampai di meja tempat kawan-kawannya sudah berkumpul.
"Weh, Sam!! Gue dapet sebagian nih, entar siang pas kepsek balik gue mau ke ruangannya liat tanggal ulangtahun guru-guru" kata Dean bangga.
"Tapi Yan, gue udah dikumpulin" kata Sammy.
"Ha?!! Sialan lu nggak bilang sama gue. Ahhh temen macem apa lu?"
"Abis kata si Tara kalo mau nilai gue selamat gue kaga boleh kasih tau lu sama Adit kalo gue udah dapetin semua biodatanya" Jelasnya
"Brengsek tuh orang!"
          Keesokan harinya, setelah selesai Dean menyelesaikan tugasnya, ia menuju ruang guru. Menaruh sembarangan bukunya di meja Tara dengan kasar. Kemudian Ester masuk, memperhatikan langkah malas muridnya.
"Kamu abis ngapain ?" tanyanya
"Abis masak daging tengkorak Bu!" ketusnya. Ester hanya bergeleng kepala, sedangkan Dean terus berjalan keluar ruangan menuju kelasnya. Pulang sekolah, Dean sudah lebih dulu pulang daripada teman-temannya. Seperti biasa, dia nongkrong diwarteg yang sedikit jauh dari sekolah. Setelah berbincang-bincang sedikit dengan sang pemilik warteg tentang sekolahnya kemudian ia mengalihkan pandangan ke suatu objek yang sangat indah. Bu Tara lewat sini!! Ia pun mencegat Tara tepat dihadapannya.
"Hay, cewek" godanya
"Kamu kok di sini?" Tara memperhatikan warteg tempat Dean berasal.
"Gue mau tanya deh sama lu, lu ada dendam kesumat apa sama gue?" tanyanya sambil melipat tangannya di depan dada. Tara hanya menarik napas panjang.
"Untung ini bukan di sekolah ya, kamu itu nggak sopan banget!"
"Peduli gue apa? Oh ya, kosan lu kan jauh dari sini, gimana kalo gue anter?"
"Trimakasih, saya bisa naik bis" Tara mengalihkan pandangan ke arah datangnya bis. Eh eh kok bis nya nggak berenti. Teriak Tara.
"Udah deh, emang takdir lu tuh pulang sama gue" cibirnya. Tara hanya memplototi nya. Dia masih tetap menunggu, walau 3 bis tanpa dosanya lewat begitu saja dari hadapan Tara. Kenapa sih nih bis jadi pada aneh-aneh gini. Batin Tara. Lalu, ia menengok sana sini tak mendapati Dean, kemana anak itu. Ia terus mencari keberadaan Dean.
"Ciee nyariin gue? Haha sabar dong gue cuma ngambil motor doang kok. Ayo naik" Tara hanya menatapnya malu, dia mengalihkan wajahnya.
"Ayo naik, udah sore kali. Gausah sok jual mahal gitu deh" Tara menghela nafas panjang, kemudian menaiki motor Dean.
          Tara menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan. Keponakan kecilnya berlari ke arahnya langsunglah ia gendong dengan senang hati.
"Sasha berantakin kamar tante ya? Bandel banget sih kamu"
"Iya Antee, disuruh oma ambil boneka teddy bir nya Ante dari Om Ean" Tara hanya tersenyum memandangi boneka yang sedang digenggam Sasha.
          Tara mengejar Dean yang sudah menumpahkan tepung di wajahnya. Dean terus berlari, hingga Tara terselandung kursi namun Dean malah berlari ke lantai atas rumahnya lalu menghilang. Dari balkon lantai atas ia mengejek Tara, hingga Tra mengejarnya sampai ke atas. Tara terhenti ketika melihat objek di hadapannya begitu ia hampir sampai di anak tangga teratas.
"Bagus ga? Happy Birthday ya" sahut Dean dari balkon tak jauh dari tangga. Tara tak bisa berkata-kata ia hanya tersenyum manis kemudian memeluk boneka teddy bear di hadapannya itu. Cara yang lucu buat ngasih kado ke pacar ya.
         Hari semakin malam, Tara sedang menyuapi Sasha kue yang tad Mama buat. Mamanya Sasha belum kunjung pulang dari acara arisannya, hingga Sasha pun tertidur dipelukan Tara setelah selesai makan kuenya. Tara sedikit berbincang-bincang dengan Mamanya mengenai keadaan Dean sekarang, tadi sedikit membaik. Dering telpon mulai bersenandung dari saku celana Tara. Ia menerima panggilan dari Mamanya Dean.
"Hal...." kata-katanya terputus ketika Mama Dean berteriak untuk segera menuju rumah sakit.
"Ha?? Oke oke tante, aku cepet-cepet ke sana" telpon pun dimatikan. Tara yang panik segera menyerahkan Sasha ke mamanya lalu mengambil tas dan berpamitan dengan sang mama. Mama Tara sempat bingung namun itu pasti hal yang penting. Sesampainya Tara di depan ruangan Dean. Ia melihat Mamanya Dean tengah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sambil sesekali terdengar isakan tangis.
"Tara.. " Mamanya Dean langsung memeluk Tara.


To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar