Tara duduk termenung di tepi ranjang ruang inap VVIP Dean. Sejak seminggu yang lalu Dean koma karena cedera pada otaknya yang diakibatkan kecelakaan mobil. 4 hari yang lalu Dean sempat sadar namun hanya sekedar membuka mata, lalu tertutup lagi hingga sekarang. Hari ini, Tara datang membawa bubur untuk mamanya Dean yang sejak tadi pagi menjaga Dean. Untung saja Dean sudah selesai UN sehingga
kejadian ini nggak menganggu kelulusannya. Tara meminta Mama untuk pulang saja sementara ia akan menjaga Dean. Mama pun menuruti Tara. Biasanya Mama ke sini 2 hari sekali, nggak bisa setiap hari karena sibuk di kantor. Kini Tara sedang mengelap meja yang sedikit kotor dengan makanan."Dey, inget nggak dulu aku sering ngegebrak meja kalo kamu nggak mau disuruh jawab soal di papan tulis? Haha" ia tertawa kecil.
Tara memasuki ruang kelas Dean, 12 IPS-1. Tinggi, putih, langsing dan berambut panjang lurus berhasil bikin anak-anak cowok kelas ini ribut nggak karuan. Ada yang bersiul, berteriak menggoda, ada yang komentar cantik, dan ada yang bertanya siapa dia. Tara menyapa dan disambut baik oleh murid-murid.
"Setiap tahun udah pada tau kan kalau ada guru pratikum dari Universitas Kasih yang selalu praktek di sini selama 3 bulan. Jadi, saya guru praktek Ekonomi akan menggantikan Bu Alinda untuk sementara di sini. Nama saya Revantara Adelia. Kalian bisa panggil saya Bu Tara" jelasnya dengan penuh senyuman. Beberapa anak bertanya seputar identitas Tara.
"Udah punya pacar belum Bu?" tanya seorang anak dengan gaya yang tidak sopan.
"Saya rasa itu adalah privasi saya. Jadi nggak perlu ditanyakan" jawabnya.
"Yah Ibu nih gimana sih, tadi katanya yang mau tanya silahkan tanya. Nggak seru nih ah" kata anak itu lagi. Bel pulang sekolah berbunyi, Tara keluar dari ruang guru bersama dengan Ana, guru praktikum biologi. Seseorang menepuk bahu Tara dari belakang. Ketika Tara menoleh, dia berteriak karena ada cicak di hadapannya.
"Salam kenal ya, Ibu cantik." kata seorang anak murid yang langsung tertawa bersama teman-temannya. Mereka pun berlalu meninggalkan ibu-ibu yang lagi pada kaget. Tara begitu kesal sejak tadi anak itu sangat tidak sopan. Tapi dia dan Ana hanya geleng kepala saja.
"Setiap tahun udah pada tau kan kalau ada guru pratikum dari Universitas Kasih yang selalu praktek di sini selama 3 bulan. Jadi, saya guru praktek Ekonomi akan menggantikan Bu Alinda untuk sementara di sini. Nama saya Revantara Adelia. Kalian bisa panggil saya Bu Tara" jelasnya dengan penuh senyuman. Beberapa anak bertanya seputar identitas Tara.
"Udah punya pacar belum Bu?" tanya seorang anak dengan gaya yang tidak sopan.
"Saya rasa itu adalah privasi saya. Jadi nggak perlu ditanyakan" jawabnya.
"Yah Ibu nih gimana sih, tadi katanya yang mau tanya silahkan tanya. Nggak seru nih ah" kata anak itu lagi. Bel pulang sekolah berbunyi, Tara keluar dari ruang guru bersama dengan Ana, guru praktikum biologi. Seseorang menepuk bahu Tara dari belakang. Ketika Tara menoleh, dia berteriak karena ada cicak di hadapannya.
"Salam kenal ya, Ibu cantik." kata seorang anak murid yang langsung tertawa bersama teman-temannya. Mereka pun berlalu meninggalkan ibu-ibu yang lagi pada kaget. Tara begitu kesal sejak tadi anak itu sangat tidak sopan. Tapi dia dan Ana hanya geleng kepala saja.
Seorang murid datang terlambat, namun ia berjalan dengan santai menuju kelasnya. Ia masuk tanpa mengetuk pintu serta tidak ada salam kepada guru yang tengah menulis di papan tulis. Tara menghampiri murid itu. Memarahinya karena tidak sopan. Akhirnya ia disuruh maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis
"Kalo kamu salah, kamu harus keluar dari kelas!" kata Tara membentak
"Terus kalo saya nggak salah? Ibu mau ya jadi pacar saya"
"Heh kamu jangan kurang ajar ya!!"
"Saya nggak mau ah kerjain, abisnya ibu nggak fair. Pokoknya kalo saya benar Ibu harus jadi pacar saya"
"Cepet ke depan!!" Tara menggebrak meja murid itu.
"Woy Dean maju aje udeh. Tunjukin kalo si Ibu ini harus jadi pacar lu" Dean maju dan dengan mudahnya mengerjakan soal itu. Aduh gue salah kasih soal, soal yang pengen gue kasih ke dia kan belum gue tulis, yang itu mah anak SMP juga bisa, benak Tara.
"Bisa kan Bu? Jadi ibu harus jadi pacar saya" kata Dean sambil tertawa. Wajah Tara sudah memerah karena menahan marah dan malu. Bisanya dia dipermalukan sama murid sendiri.
"Kalo kamu salah, kamu harus keluar dari kelas!" kata Tara membentak
"Terus kalo saya nggak salah? Ibu mau ya jadi pacar saya"
"Heh kamu jangan kurang ajar ya!!"
"Saya nggak mau ah kerjain, abisnya ibu nggak fair. Pokoknya kalo saya benar Ibu harus jadi pacar saya"
"Cepet ke depan!!" Tara menggebrak meja murid itu.
"Woy Dean maju aje udeh. Tunjukin kalo si Ibu ini harus jadi pacar lu" Dean maju dan dengan mudahnya mengerjakan soal itu. Aduh gue salah kasih soal, soal yang pengen gue kasih ke dia kan belum gue tulis, yang itu mah anak SMP juga bisa, benak Tara.
"Bisa kan Bu? Jadi ibu harus jadi pacar saya" kata Dean sambil tertawa. Wajah Tara sudah memerah karena menahan marah dan malu. Bisanya dia dipermalukan sama murid sendiri.
Dean ijin ke kamar mandi bersama 3 teman yang biasa menemaninya kemana-mana. Ceritanya mereka mau bolos pelajaran bahasa Jepang. Tapi acara bolos itu ketauan sama Tara. Mereka berempat dibawa ke kelasnya untuk diserahkan ke guru bersangkutan. Mereka abis diomelin sama guru Jepang itu. Pulang sekolah, Dean dan kawan sedang berada di tepi lapangan basket bersiap untuk main.
"Gara-gara si Tara, kita jadi kena ama Jecky" kata Dean yang secara tidak sopan menyebut nama guru-guru mereka.
"Udehlah Yan, main dulu lah kita." ajak Galih. Setelah lama bermain, Dean membungkukan badannya karena kelelahan bermain, ia menoleh ke arah parkiran, terlihat Tara sedang berjalan di tepian untuk menuju gerbang sekolah.
"Weh siniin bolanya!!" teriak Dean. Setelah bola di tangannya, Dean bersiap melempar bola dan braakkk.....
Tara terduduk di jalanan karena kaki kanannya terlempar bola basket. Dean kini berada di hadapannya.
"Maaf ya Bu. Ibu sih jalannya lurus aja, liat-liat dong Bu di sekelilingnya" kata Dean dengan nada meledek sambil mengambil bola. Tara hanya menatapnya geram dan mencoba bangun. Dengan wajah meremehkan, Dean kembali ke lapangan basket. Berapa jam kemudian, Dean sampai di rumah. 2 orang pembantunya berdiri di depan kamar papanya. Dean yang penasaran menerobos masuk kamar Papa. Mama sedang menangis di sisi Papa bersama beberapa suster dan dokter. Papa meninggal karena serangan jantung mendadak. Tapi Papa dirawat di rumah karena mengalami stroke setahun belakangan. Dean menangis sambil memeluk Papa. Esoknya, pemakaman Papa berjalan dengan lancar. David, kakak Dean baru saja sampai. Dia dari Manado mengurus pekerjaan dan baru sampai berapa jam yang lalu di bandara. David menenangkan adiknya terus menerus, tapi Dean tidak suka dengan apa yang dilakukan David. Papa selalu membanggakan David daripada Dean. Maka itu Dean tidak menyukai David. Dia selalu kasar pada David walaupun ia lebih muda 6 tahun dari David.
"Gara-gara si Tara, kita jadi kena ama Jecky" kata Dean yang secara tidak sopan menyebut nama guru-guru mereka.
"Udehlah Yan, main dulu lah kita." ajak Galih. Setelah lama bermain, Dean membungkukan badannya karena kelelahan bermain, ia menoleh ke arah parkiran, terlihat Tara sedang berjalan di tepian untuk menuju gerbang sekolah.
"Weh siniin bolanya!!" teriak Dean. Setelah bola di tangannya, Dean bersiap melempar bola dan braakkk.....
Tara terduduk di jalanan karena kaki kanannya terlempar bola basket. Dean kini berada di hadapannya.
"Maaf ya Bu. Ibu sih jalannya lurus aja, liat-liat dong Bu di sekelilingnya" kata Dean dengan nada meledek sambil mengambil bola. Tara hanya menatapnya geram dan mencoba bangun. Dengan wajah meremehkan, Dean kembali ke lapangan basket. Berapa jam kemudian, Dean sampai di rumah. 2 orang pembantunya berdiri di depan kamar papanya. Dean yang penasaran menerobos masuk kamar Papa. Mama sedang menangis di sisi Papa bersama beberapa suster dan dokter. Papa meninggal karena serangan jantung mendadak. Tapi Papa dirawat di rumah karena mengalami stroke setahun belakangan. Dean menangis sambil memeluk Papa. Esoknya, pemakaman Papa berjalan dengan lancar. David, kakak Dean baru saja sampai. Dia dari Manado mengurus pekerjaan dan baru sampai berapa jam yang lalu di bandara. David menenangkan adiknya terus menerus, tapi Dean tidak suka dengan apa yang dilakukan David. Papa selalu membanggakan David daripada Dean. Maka itu Dean tidak menyukai David. Dia selalu kasar pada David walaupun ia lebih muda 6 tahun dari David.
Setelah seminggu, Dean masuk sekolah seperti biasa, namun setiap ada yang ngajak bicara dia pasti dibalas jutek. Pagi ini Tara masuk kelas Dean.
"Bu, pr yang kemarin gimana?" tanya Anita, si ranking 1 di kelas ini. Tara menyuruh anak-anak mengumpulkan pr nya. Tapi dilihatnya Dean tidak bergerak sedikit pun membuat Tara marah. Tara menghampiri Dean dan menyuruhnya mengumpulkan pr nya. Tapi Dean hanya bilang "belom kerjain".
"Kamu ini gimana sih, pr itu harus dikerjain, enak banget bilang belom. Kumpulin atau saya ..." Tara sekejab berhenti ketika Dean memotong pembicaraannya.
"Saya apa???? Ibu nggak bisa maklumin saya apa? Ibu tau nggak papa saya baru meninggal seminggu yang lalu. Kalo ngomel juga mikir dulu dong keadaan saya! Saya ijin ke kamar mandi!!" katanya dengan nada tinggi dan judes. Dean langsung keluar dari kelas.
"Papanya meninggal??" tanya Tara pada anak sekelas.
"Ya Bu, kita juga baru tau kemarin." jawab Anita mewakili. Tara jadi merasa bersalah udah ngomelin Dean kayak gitu. Dean berdiam diri di ruang UKS. Ia termenung. Tara masuk dan menghampirinya
"Hmm.. Dean? Maaf saya nggak tau soal itu. Dan turut berduka ya untuk papa kamu" kata Tara yang hanya dibalas dengan suara singkat Dean yang menandakan Dean mengiyakan perkataan Tara. Tara jadi canggung untuk ajak bicara Dean sehingga ia memutuskan untuk pergi.
"Bu, pr yang kemarin gimana?" tanya Anita, si ranking 1 di kelas ini. Tara menyuruh anak-anak mengumpulkan pr nya. Tapi dilihatnya Dean tidak bergerak sedikit pun membuat Tara marah. Tara menghampiri Dean dan menyuruhnya mengumpulkan pr nya. Tapi Dean hanya bilang "belom kerjain".
"Kamu ini gimana sih, pr itu harus dikerjain, enak banget bilang belom. Kumpulin atau saya ..." Tara sekejab berhenti ketika Dean memotong pembicaraannya.
"Saya apa???? Ibu nggak bisa maklumin saya apa? Ibu tau nggak papa saya baru meninggal seminggu yang lalu. Kalo ngomel juga mikir dulu dong keadaan saya! Saya ijin ke kamar mandi!!" katanya dengan nada tinggi dan judes. Dean langsung keluar dari kelas.
"Papanya meninggal??" tanya Tara pada anak sekelas.
"Ya Bu, kita juga baru tau kemarin." jawab Anita mewakili. Tara jadi merasa bersalah udah ngomelin Dean kayak gitu. Dean berdiam diri di ruang UKS. Ia termenung. Tara masuk dan menghampirinya
"Hmm.. Dean? Maaf saya nggak tau soal itu. Dan turut berduka ya untuk papa kamu" kata Tara yang hanya dibalas dengan suara singkat Dean yang menandakan Dean mengiyakan perkataan Tara. Tara jadi canggung untuk ajak bicara Dean sehingga ia memutuskan untuk pergi.
Ratih, salah seorang pembantu Dean masuk ke ruang rawat Dean. Ia membawakan makanan dari rumah yang ia masak tadi pagi untuk Tara. Itu semua permintaan mamanya Dean.
"Mbak Tara, entar siang Mas David mau ke sini. Nanti kasihin juga ya yang ini buat Mas David disuruh Ibu"
"Mas David itu siapa, Bi?"
"Dia kan kakaknya Mas Dean, Mbak.."
"Permisi..eh ada Bi Ratih" kata seorang pria yang masuk ke ruangan. Setelah berkenalan, David cerita sedikit kenapa dia jarang ada di rumah dan alasan kenapa Dean tidak pernah menceritakan dirinya pada Tara.
"Mbak Tara, entar siang Mas David mau ke sini. Nanti kasihin juga ya yang ini buat Mas David disuruh Ibu"
"Mas David itu siapa, Bi?"
"Dia kan kakaknya Mas Dean, Mbak.."
"Permisi..eh ada Bi Ratih" kata seorang pria yang masuk ke ruangan. Setelah berkenalan, David cerita sedikit kenapa dia jarang ada di rumah dan alasan kenapa Dean tidak pernah menceritakan dirinya pada Tara.
Dean menceburkan dirinya ke kolam renang dengan kedalaman 2 meter. Jelas saja anak 7 tahun akan tenggelam. David yang menolong Dean. Setelah berada di daratan, Papa langsung memeluk David. Ia bangga sekali pada David karena bisa menolong adiknya. Dean juga senang karena ia selamat berkat kakaknya. Pulang dari acara berenang, Papa mengeluarkan sebuah mainan robot yang lagi ngetren pada jaman itu, Dean begitu senang tapi robot itu diberikan pada David karena keberanian David menolong Dean, Papa bilang robotnya hanya satu itu dari temannya Papa tadinya untuk pajangan di kantor Papa. Dean iri dan marah-marah. Suatu malam, ia masuk ke kamar David untuk mengambil robot itu diam-diam, tapi karena kamar David gelap ia tak sengaja menjatuhkan robot tersebut dan membangunkan David. David teriak nggak karuan membuat Papa dan Mama berlari menuju kamar David. Setelah mengetahui kejadian sebenarnya Dean habis dimarahi Papa karena mencoba mencuri. Dean merasa Papa pilih kasih, padahal Dean hanya ingin bermain sebentar dengan robot itu tapi Papa menganggap ia ingin menghancurkan robot itu agar David tidak juga memilikinya. Sejak saat itu Dean selalu iri apabila Papa membanggakan David. Setahun kemudian, Dean menerima rapot namun hasilnya Dean tidak naik kelas ke kelas 5 SD. Mama sangat marah pada Dean sehingga Dean diberi tambahan pelajaran didua tempat les berbeda. Waktunya di rumah sangat singkat karena sibuk belajar. Dean pulang ke rumah jam 7 malam bersama supirnya. Papa, Mama dan David tidak ada di rumah. Ketika pulang, David berteriak riang pada Dean.
"Dean!! Tadi kita ke rumahnya Gerrald lho, jenguk adik bayi nya Gerrald"
"Kok ke rumah Gerrald nggak ajak Dean sih! Jahatttttt" Dean marah-marah. Gerrald adalah sepupu laki-laki mereka satu-satunya sehingga mereka sangat senang bermain dengan Gerrald.
"Tadi kita mau ajak kamu, tapi mas Agung bilang kalian sudah sampai di rumah, kita sudah keburu jalan jadinya kita nggak ajak kamu. Maaf ya Dean bukan maksudnya begitu" jelas Mama. Tapi Dean yang belum mengerti langsung lari ke kamarnya dan menangis.
"Dean!! Tadi kita ke rumahnya Gerrald lho, jenguk adik bayi nya Gerrald"
"Kok ke rumah Gerrald nggak ajak Dean sih! Jahatttttt" Dean marah-marah. Gerrald adalah sepupu laki-laki mereka satu-satunya sehingga mereka sangat senang bermain dengan Gerrald.
"Tadi kita mau ajak kamu, tapi mas Agung bilang kalian sudah sampai di rumah, kita sudah keburu jalan jadinya kita nggak ajak kamu. Maaf ya Dean bukan maksudnya begitu" jelas Mama. Tapi Dean yang belum mengerti langsung lari ke kamarnya dan menangis.
Papa selalu menyuruh David untuk ambil jurusan bisnis di Amerika. Tapi kenapa Papa nggak pernah suruh Dean ambil jurusan itu juga? Padahal sejak David masih SMA Papa selalu mengatakan itu. Sekarang Dean duduk di bangku SMA kelas 1. Papa nggak pernah memaksakan Dean ambil jurusan bisnis. Papa pernah bilang kalau Dean boleh ambil jurusan apa aja yang ia mau, Papa dan Mama akan dukung 100%. Tapi Dean salah mengerti, dia berfikir Papa dan Mama tidak mau tau soal jurusan yang Dean ambil. Kenapa ia nggak ikutin jejak David ke luar negri. Bener-bener pilih kasih!!! Tapi tak dipungkiri Dean sangat menyayangi Papa, ia selalu ingin jadi seperti Papa. Ia berharap suatu hari nanti ia yang akan meneruskan perusahaan Papa bukan David.
David tertawa kecil mengingat kejadian itu. Tara sudah biasa dengan cerita keegoisan dan pikiran kekanakan Dean. Suster masuk ke ruangan Dean mengganti botol infus Dean.
"Ini siapanya Mas Dean, Mbak? Mirip ya sama Mas Dean" kata suster yang sudah dikenal Tara sejak Dean dirawat di ruangan ini.
"Yah ini kakaknya, Sus" suster itu tersenyum dan kemudian meninggalkan ruangan.
"Jadi lu udah berapa lama sama Dean?"
"Udah hampir 5 bulan"
David permisi untuk pulang, besok dia harus ke Bali untuk bertemu kliennya. Setelah David pulang, Tara tertidur di sisi ranjang Dean sambil menggenggam tangan Dean yang terinfus...
"Ini siapanya Mas Dean, Mbak? Mirip ya sama Mas Dean" kata suster yang sudah dikenal Tara sejak Dean dirawat di ruangan ini.
"Yah ini kakaknya, Sus" suster itu tersenyum dan kemudian meninggalkan ruangan.
"Jadi lu udah berapa lama sama Dean?"
"Udah hampir 5 bulan"
David permisi untuk pulang, besok dia harus ke Bali untuk bertemu kliennya. Setelah David pulang, Tara tertidur di sisi ranjang Dean sambil menggenggam tangan Dean yang terinfus...
To be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar