Kamis, 15 Januari 2015

Manisnya Hubungan Tanpa Status

          Ini adalah hari dimana pertama kali sekolah sebagai anak SMA. Reina atau biasa disapa Rei ribet banget foto-foto bersama teman-temannya berhubung baru make baju putih abu-abu. Nggak nyangka sekarang mereka berada di jenjang ini. Nggak cuma Sella, Tesa dan Nita yang menemani berfoto ria, tapi juga Virgo dan Dio yang nggak kalah eksisnya. Mereka sudah seakrab ini dimulai dari pertama MOS yang
kebetulan dibuat satu kelompok. Hari pertama jelas belum sepenuhnya belajar, masih perkenalan dengan guru-guru dan lingkungan sekolah karena 3 hari MOS belum cukup membuat mereka beradaptasi. Sepulang sekolah, si wakil OSIS menghampiri kerumunan anak kelas 10 ini.
"Rei, Sella, Tesa. Abis ini kalian ke lapangan ya soalnya latian upacara buat Senin nanti udah mau di mulai" ucap Felix yang kemudian langsung pergi.
          Hampir sejam mereka latihan di lapangan. Felix yang melatih barisan pengibar bendera tanpa lelah mengajari mereka, nggak disadarin Felix memperhatikan Reina dengan tatapan yang kurang bisa dijelaskan. Selesai latihan, ketiga gadis ini menghampiri Nita, Virgo, Dio dan satu lagi yang baru keliatan sekarang, Alden. Berhubung hanya Alden dan Sella yang berbeda kelas dengan Virgo, Dio, Nita, Rei, dan Tesa.
"Lu siapa? Kok gue baru liat elu ya? Yang lain sih gue udah tau. Oh ya, gue Alden" tanya Alden sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Masa sih? Gue Reina panggil aja Rei. Gue sekelas kok sama mereka" katanya menunjuk ke arah Virgo dan kawan-kawan.
          Nggak kerasa waktu cepat sekali berlalu. Sudah berapa minggu mereka terdaftar sebagai murid di SMA Kasih ini. Di perjalanan pulang Rei, Tesa, Nita dan Sella berbincang seru perihal kakak kelas yang meminta nomor Tesa dan Nita. Kemudian topik menjadi bergeser..
"Kayanya tadi di kantin, lu seru banget Rei ngobrol sama Alden?" Tanya Sella yang sejak SMP sudah mengenal Alden.
"Nggak kok, perasaan lu aja kali. Lagian tadi dia cerita sedikit soal dia yang lagi deket sama kak Vira anak kelas 11 itu" jelasnya. Yang lain cuma mengangguk mengerti. Dua minggu berlalu, Alden berhasil menjadikan Vira sebagai pacarnya berkat bantuan Felix. Alden dan Felix emang sahabatan bahkan seperti saudara karena mereka satu sekolah sejak SMP. Walaupun berbeda 1 tahun, persahabatan mereka tidak mengenal kakak atau adik kelas. Mulai tersebar gosip di satu sekolah itu tentang Alden dam Vira. Jelas lah soalnya kan Alden lebih muda dari Vira. Semenjak Alden dan Vira dalam status berpacaran, Alden jarang ngumpul bareng teman-temannya apalagi kini Alden dan seorang teman sekelasnya yang dekat sekali dengan Vira, Gisel namanya lebih sering terlihat menemani Vira kemana-mana.
          2 bulan kemudian. Dijam istirahat, Sella mengunjungi kelas Rei dengan membawa berita. Felix suka sama Rei! Tapi tidak begitu ditanggapi oleh Rei sendiri. Hari ini kelas 10 1-4 mendapat tugas Bahasa Indonesia yang sama, rangkuman bab 1 dalam bentuk konsep dan ditulis di karton. Tentu Rei mengajak keenam temannya untuk mengerjakan bersama di rumah Tesa yang dekat dengan sekolah. Rumah besar namun sederhana, rapi dan nyaman inilah tempat mereka mengerjakan tugas itu. Tesa, Nita, Sella, Virgo dan Dio mulai mengerjakan di ruang tamu sedangkan Rei dan Alden malah ngobrol asyik di teras depan bahkan tawa mereka terdengar jelas sekali di ruang tamu. Entah dalam rangka apa Alden mau ikut bersama lagi.
"Heh lu berdua di situ! Ngerjain tugasnya bukan malah ketawa-ketawa. Ngomongin apa sih?" tanya Virgo.
"Ini nih si Alden ceritain lucunya si Dio nyanyi diMOS" jawab Rei. Yang lain malah jadi ikutan ketawa-ketawa.
          Alden kemudian mengganti topik setelah pertanyaan Rei mengenai hubungannya dengan Vira yang ternyata sekarang mengalami guncangan. Menurut Alden, Vira adalah type cewek yang cerewet, suka marah-marah, dan beberapa lainnya yang buruk. Alden merasa bosan selalu diperlakukan seperti itu. Mengenai Felix, berapa hari yang lalu Felix meminta Alden membantunya mendekati Rei. Setelah mengatakan itu pada Rei, perempuan ini hanya merespon..
"Sayang gue nggak suka sama dia, dia lebih asyik jadi kakak gue aja." Pernyataan itu melumpuhkan harapan Alden membantu sahabatnya. Keesokan harinya, tugasnya dikumpulkan. Tetapi sang guru bidang study mengetahui punya Alden dikerjakan sepenuhnya oleh Vira dari seorang murid. Niatnya sih baik tapi hal itu bikin cowoknya bisa jadi malas. Vira abis dimarahi si guru. Istirahat tiba, Vira menghampiri Rei dan kawan-kawannya ke kelas. Membentak Nita karena Vira tau kalau gadis itu yang melaporkan pada guru Bahasa Indonesia. Kini Nita dan Vira menjadi pusat perhatian, Rei yang nggak tega pun membela Nita habis-habisan depan Vira. Jadinya malah Rei dan Vira yang bertengkar mulut. Alden yang mengetahui kejadia  itu bergegas masuk kelas dan menarik tangan Vira keluar dari kelas. Mengajaknya bicara di balkon. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua yang pasti kini Nita merasa bersalah. Berapa menit kemudian, Alden masuk dan minta maaf atas nama Vira kepada Rei dan Nita.
            Malam hari, Alden menelpon Rei dan tiba-tiba menceritakan apa yang ia katakan pada Vira tadi pagi di balkon. Alden dan Vira resmi putus saat itu. Tapi anehnya, Rei yang mendengar itu malahan senang apa mungkin dia mulai suka dengan Alden. Tapi semenjak telpon pada malam itu, akhir-akhir ini Rei dan Alden sering chat bahkan mereka memanggil 'Beb' atau 'Sayang' satu sama lain. Menurut konfirmasi Rei kepada teman-temannya sih ini supaya Alden bisa cepet melupakan Vira. Tapi bukan melupakan, sepertinya Alden mengkhianati sahabatnya, Felix. Seminggu sebelum ulang tahun Rei yang tepat pada hari Sabtu ini. Rei mulai bercerita pada teman-teman gadisnya bahwa ia sepertinya menyukai Alden, nyaman da  tertarik dengan kepribadian Alden. Hal itu pun sampai ditelinga Alden sehari sebelum ulang tahun Rei. Hari ini hari yang ditunggu-tunggu Rei, sepulang sekolah mereka menuju sebuah restoran karena Rei akan mentraktir mereka makan. Dia terlihat riang sekali bukan hanya karena hari ini genap 16 tahun tapi pukul 00.02 Alden yang mengucapkan selamat ulang tahun pertama untuknya. Selesai makan-makan, Sella, Tesa, Virgo dan Dio menuju taman buat foto-foto. Di sisi lain, Alden berpindah duduk tepat di hadapan Rei. Di sebelah kiri Rei ada Nita yang sedang sibuk main handphone. Kelihatannya Alden sedang serius.
"Wish lu apa semalem?" Tanyanya.
"Nggak ada wish apa-apa"
"Yakin nggak ada?"
"Iya yakin emang kenapa?" Kini mata Nita mulai melirik ke kedua orang yang sedang terlibat percakapan serius itu.
"Lu suka sama gue? Jujur aja.." setelah lama bergulat dengan pernyataan 'tidak' dari Rei. Akhirnya...
"Gini ya Rei. Gue bukan mau gimana-gimana, kalau lu emang suka sama gue yah gak apa-apa. Tapi sorry kita hanya sebatas teman, gue cukup tau diri karena Felix suka sama lu" pernyataan ini hanya dibalas senyuman oleh Rei sendiri. Nita tau benar perasaan Rei sekarang, diam-diam dia memgelus tanga Rei yang tersembunyi di bawah meja.
          Semalaman Rei menangis karena hal itu dia berfikir bagaimana tetap berteman dengan Alden yang sudah bikin dia patah hati. Seiring berjalannya waktu, Rei dan Alden menjalani hari-hari ssperti biasa sering ngobrol bareng saat istirahat. Tapi kali ini berbeda, Alden sering memberikan coklat kepada Rei bahkan suka menyisipkan kertas kecil di kostak Rei bertuliskan 'Hai, Reina Cantik'. Suatu hari saat pulang sekolah, Sella mengajak teman-temannya mengunjungi rumah Alden karena berhubung anak itu nggak masuk hari ini. Di ruang tamu, Rei berdiam diri tidak seperti biasanya, sedikit canggung untuk mengajak bicara Alden duluan. Di taman belakang Alden dan Virgo sedang membersihkan kursi lipat yang patah akibat tendangan bola.
"Sebenernya lu sama Rei gimana sih, Al? Gue liat lu berdua makin deket tapi lu berdua nggak ada hubungan apa-apa. Gue ngerasa lu kaya ngasih harapan palsu ke Rei. Kan kasian dia" pernyataan itu membuat Alden jadi merasa bersalah. Apa mungkin itu yang menyebabkan Rei sejak tadi berdiam diri di ruang tamu sibuk dengan ponselnya. Alden mengajak teman-temannya berkumpul di ruang tamu. Ada yang ingin ia sampaikan.
"Gue nggak enak sama kalian yang berfikir gue ada apa-apa sama Rei. Bukan bermaksud ngasih harapan palsu, tapi kalian tau sendiri kan seberapa deketnya gue sama Felix?!" Jelas Alden
"Kalo gitu kalian backstreet aja dari Felix" sahut Tesa
"Yailah. Kalo kaya gitu cepat atau lambat bakal ketauan malah bikin marah. Mendingan jujur aja" jelas Dio
"Gue bukan nggak mau kasih kepastian buat hubungan kita, tapi gue menghargai persahabatan gue. Lu bisa ngerti kan, Rei?"
"Ya ampun. Selow aja sih sama gue. Emang kepastian apa sih? Santai aja lagi" pernyataan palsu yang keluar dari mulut Rei berhasil membuat Alden tenang. Nggak bisa dibohongi Rei sakit mendengar hal itu dari Alden. Esok hari, dari jendela kelas Rei muncul Alden yang kemudian memberikan coklat kepada Rei. Emang Rei seneng sih tapi dia berfikir ini gak lebih dari seorang sahabat. Pada pelajaran terakhir, Alden mengetuk pintu kelas Rei meminta ijin pada guru untuk memanggil Rei keluar kelas karena dipanggil kepala sekolah. Rei keluar kelas.
"Ada apa gue dipanggil kepsek?" Tanya Rei penasaran
"Nggak ada."
"Dih katanya gue dipanggil tapi nggak ada apa maksudnya sih?"
"Sebenernya lu dipanggilnya sama gue. Gue kangen Rei sama lu hehehe" katanya yang diakhiri dengan cengiran-cengiran Alden. Berapa hari kemudian, pagi-pagi Alden menghampiri Rei di kursinya. Meminjam pulpen Rei. Dan saat istirahat Alden mengembalikannya pada Rei. Ketika bel masuk berbunyi Alden teriak "Rei, liat deh tintanya udah seberapa. Tadi gue pake buat coret-coret" dalam sekejab Alden sudah menuju kelasnya. Rei langsung mengelurkan tinta dari pulpennya, dilingkaran tempat tinta itu label putih tertempel disana bertuliskan "I Love You" hal itu membuat Rei tak berhenti tersenyum saat pelajaran berlangsung. Esok harinya, di kantin sudah berkumpul Rei, Alden, Nita, Tesa, Dio, Sella dan Virgo.
"Duh, Rei sama Alden kapan sih lu berdua jadian? Kan kita nungguin pajak nya nih. Deket mulu lu tapi gak jadian-jadian" tutur Tesa sesaat setelah makan selesai.
"Tau nih. Yang konsisten dong mau jadian apa nggak?" samber Nita dibarengi tawa-tawa teman-temannya.
"Apaan sih kalian. Udah lah makan aja dulu" kata Rei.
"Kita cuma sebatas temen kok. Gue klarifikasiin lagi ya, termasuk lu Rei. Kita nggak ada hubungan apa-apa kan? Inget ya gue menghargai persahabatan gue dengan Felix" jelasnya yang lagi-lagi membuat Rei ingin menangis. Di kelas, Rei terlihat murung, Tesa teman semeja nya mulai bertanya-tanya.
"Lu kenapa lagi Rei? Soal omongan Alden tadi?"
"Yaiyalah, mau soal apa lagi. Kita hanya sebatas teman tapi lu liat kan, Tes? Seberapa seringnya dia perhatian sama gue, dengan semua cokelat yang dia kasih, kata-kata gombalnya, tapi dia hanya menganggap gue teman. Gue ini apa sih di mata dia?" Tanpa sadar Rei mulai meneteskan air mata namun ia langsung menghapusnya.
          Sabtu pun tiba. Pukul 6 sore acara ulang tahun Sella yang ke 17 tahun sudah dimulai, Sella emang lahir setahun lebih dulu dari teman-teman seangkatannya karena katanya saat umur 6 tahun dia baru mulai sekolah Taman Kanak-Kanak. Saat acara makan-makan, Alden mengajak Rei menuju balkon lantai 2 rumah Sella yang emang lumayan besar. Balkon itu menghadap halaman terbelakang rumah Sella. Begitu terpanah Rei melihat kumpulan lilin membentuk namanya. Alden mengungkapkan perasaannya pada Rei tanpa diduga. Segelintir suara mulai berdatangan dari tempat dimana lilin itu terletak "Terima Rei!! Terima!! Kapan lagi Alden kaya gitu?!" Udah nggak tau deh siapa yang mengatakan itu yang pasti saat itu Rei dan Alden berpelukan sebagai sepasang kekasih. Bian si fotografer kelas Rei sejak tadi berada jauh di belakang dua insan ini memotret mereka berkali-kali. Bagaimana dengan Felix?
"Aku udah jujur sama Felix, awalnya dia marah tapi dia bisa bersikap dewasa karena kamu lebih sayang sama aku, iya nggak?" Kata Alden. Hari itu pesta ulang tahun Sella diakhiri dengan kembang api yang begitu meriah. Eh Virgo merangkul Nita di tengah terpesonanya mereka dengan kembang api
"Nit, nggak enak nih kita doang yang nggak berpasangan. Liat noh si Dio sama Sella, Tesa sama Kak Alex, Rei sama Alden. Lu sama gue aja yak? Mau aja yakk" tutur Virgo ngenes!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar