Mama sudah berteriak sedari tadi memanggil Nira untuk segera mengemasi barang-barang Nira yang ada di kamar Bude Ani. Hari ini Nira, orang tua dan adik kecilnya berumur 6 tahun bernama Dio akan pulang ke Jakarta setelah 1 minggu menghabiskan liburan di Jogjakarta tepatnya di rumah Eyang Putri, ibu dari papanya Nira. Baru pertama kali Nira bertemu dengan keluarga besar papa. Hari ini Eyang bilang Dino adik papa yang terakhir akan ikut
bersama Nira dan keluarga kecilnya untuk kuliah di Universitas Negri di Depok dekat dengan rumah Nira, selain itu biaya hidup Dino akan ditanggung papa sampai ia mendapat gelar S1 nya. Ia duduk di samping Nira saat di pesawat dan di taxi sewaktu pulang menuju rumah Nira yang cukup besar. Papanya Nira adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Semenjak bertemu dua hari yang lalu saat Dino pulang dari Bali setelah menghadiri acara perpisahan sekolah 4 hari 3 malam. Dino belum sama sekali mengeluarkan kata-kata kepada Nira. Kamar 4x5 meter yang ada di sebelah kamar Nira itu menjadi kamar Dino. Setelah makan malam, Dino permisi menuju kamarnya untuk beberes lagi. "mama, Dio mau ke kamar Om itu boleh? Katanya Om tadi itu dia punya pajangan Spiderman keren, kalo Dio mau itu boleh di bawa ke kamar Dio" ucap Dio. Hey kapan Dio jadi seakrab itu sama Om Dino? benak nya. Dio lari ke kamar Om Dino yang berada di lantai 2 itu. Selesai makan Nira juga masuk ke kamarnya. Nira menelpon Vera, sahabatnya semasa SD dan SMP menanyakan soal MOS minggu depan.
2 bulan berlalu, Nira membawa teman-teman sekolahnya menuju kamarnya. Hari ini ia akan kerja kelompok, tapi sampai jam 10 malam teman-teman yang berseragam putih abu-abu itu belum juga pulang. Seseorang mengetuk pintu kamar Nira. Dino kemudian marah-marah karena suara teman-teman Nira begitu mengganggunya. Orang ini emang bikin Nira jengkel melulu. Seminggu setelah Dino tinggal di rumah ini emang selalu aja dia ngegangguin aktifiktas Nira. Mulai dari Nira yang suka main berenang disaat hujan sampai persoalan waktu Aldi pacar Nira datang ke rumah malam minggu, Nira berada di teras depan sampai jam 11 malam bersama Aldi. Saat itu orang tua Nira nggak ada di rumah. Dino langsung marah-marah bahkan tatapannya tajam menatap Aldi kalo bukan Nira bilang dia itu pamannya mungkin Aldi sudah menghabisi manusia itu. Sejak 2 minggu yang lalu Papa dan Mama berada di Bali mengurus bisnis Papa di sana.
"gue bosen Din lu ngatur gue melulu, iya emang lu dikasih mandat buat jagain gue sama Dio tapi please kali ini aja berhubung besok libur karena guru rapat, mereka mau nginep di sini ada 2 orang doang kok yang nginep, 3 nya pulang" jelas Nira. Emang keliatan nggak sopan memanggil paman sendiri dengan sebutan nama tapi ini permintaan Dino sendiri, usia mereka hanya beda 3 tahun agak nggak nyaman jika Dino di panggil Om. Pagi jam 8 Dino dan Dio berada di ruang makan sarapan bersama, Nira dan 2 kawannya menuju ruang makan untuk makan. Dino menanyakan akan kemana Nira hari ini. Nira, Lia dan Vera menuju toko buku yang dia katakan pada Dino tadi. Tak lama, Aldi datang menghampiri Nira yang asyik membaca sinopsis novel, merangkul Nira dan mencium keningnya. Ponsel Nira berbunyi.
"apa?" tanya Nira jutek.
"jauhin tuh tangannya Aldi dari pundak kamu. Bukan muhrim peluk-pelukan. Apa kata orang yang liat kamu, Nir?" katanya. Ha? Nih orang tau darimana. Nira langsung menengok sana sini.
"sejak kapan lu ada di situ?" nut nut nut... Telpon terputus. Sekarang Dino sedang berjalan menuju Aldi dan Nira. Menggeser tangan Aldi dari bahu Nira. Setengah mati Aldi menahan amarahnya. Dino menarik Nira menjauhi Aldi. Dino menceramahi Nira habis-habisan. Salah satu keunggulan cowok ini yaitu logat bahasa Jawa nya nggak pernah kedengeran padahal 18 tahun tinggal di Jogja.
"gue bosen Din lu ngatur gue melulu, iya emang lu dikasih mandat buat jagain gue sama Dio tapi please kali ini aja berhubung besok libur karena guru rapat, mereka mau nginep di sini ada 2 orang doang kok yang nginep, 3 nya pulang" jelas Nira. Emang keliatan nggak sopan memanggil paman sendiri dengan sebutan nama tapi ini permintaan Dino sendiri, usia mereka hanya beda 3 tahun agak nggak nyaman jika Dino di panggil Om. Pagi jam 8 Dino dan Dio berada di ruang makan sarapan bersama, Nira dan 2 kawannya menuju ruang makan untuk makan. Dino menanyakan akan kemana Nira hari ini. Nira, Lia dan Vera menuju toko buku yang dia katakan pada Dino tadi. Tak lama, Aldi datang menghampiri Nira yang asyik membaca sinopsis novel, merangkul Nira dan mencium keningnya. Ponsel Nira berbunyi.
"apa?" tanya Nira jutek.
"jauhin tuh tangannya Aldi dari pundak kamu. Bukan muhrim peluk-pelukan. Apa kata orang yang liat kamu, Nir?" katanya. Ha? Nih orang tau darimana. Nira langsung menengok sana sini.
"sejak kapan lu ada di situ?" nut nut nut... Telpon terputus. Sekarang Dino sedang berjalan menuju Aldi dan Nira. Menggeser tangan Aldi dari bahu Nira. Setengah mati Aldi menahan amarahnya. Dino menarik Nira menjauhi Aldi. Dino menceramahi Nira habis-habisan. Salah satu keunggulan cowok ini yaitu logat bahasa Jawa nya nggak pernah kedengeran padahal 18 tahun tinggal di Jogja.
Hari ini, papa dan mama pulang dari bisnisnya itu. Nira ngadu sama papa, tapi apa responnya...
"kamu ini gimana sih, itu tandanya Dino kan sayang sama keponakannya. Jadi pacarmu suka main ke sini ya? Untung ada Dino bisa batasin kamu! Awas ya kamu kalo macem-macem" Nira jadi badmood, dia masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut karena malahan papa menambahkan mandat kepada Dino. Dino menyusul Nira ke kamarnya. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur Nira dengan amat tenang. Awalnya Dino minta maaf, dan itu sempat membuat Nira luluh. Tapi Dino membuat kesepakatan dengan Nira kalau dia tetap di atur oleh Dino, dia akan membebaskan Nira dengan Aldi tapi tetap mereka harus ingat batasannya. Dengan bujukan dan rayuan maut akhirnya Nira setuju.
"Yauda kalo gitu kamu tidur, ini udah malem nanti cantiknya berkurang lho" ucap Dino sembari tertawa kecil.
"heh! Kok lu jadi gombal sih. Wahhh... " Dino hanya tersenyum dan mengusap kepala Nira. Dino tersenyum manis sekali pagi itu sesaat Nira meninggalkan mobil Dino untuk berjalan menuju kelasnya. Nira suka berfikir kalo diliat-liat Dino lumayan juga tapi sayang dia pamannya Nira, kalo nggak udah diembad kali. Di kelas, Vera ngadu soal Ghea anak kelas 11, mantannya Aldi yang tadi ngobrol berdua di kelas Ghea. Nira jadi panas, karena dia nggak pernah berfikir Aldi mau masuk kelas Ghea setelah lama mereka sudah tidak berkomunikasi apapun. Sekejab mood Nira jadi rusak. Saat istirahat pun Nira tidak ke kantin. Pulang sekolah, Nira buru-buru menelpon Dino menyuruhnya untuk cepat menjemput. Sekarang gaya bicara mereka sudah nggak seformal biasanya. Vera menghampiri Nira untuk memberitahu keberadaan Aldi, karena Nira terlihat seperti sedang menunggu orang. Kemudian Vera pergi, sesaat Aldi datang dari lapangan futsal menghampiri Nira. Tubuhnya yang penuh keringat membuat Nira berfikir untuk mengelap keringatnya tapi berhubung dia lagi bete jadi males deh.
"hay, sayang. Nungguin aku ya, sebentar ya aku ganti baju dulu abis itu anter kamu pulang" kata Aldi yang kemudian berlalu. Nira sempat mencegahnya namun Aldi tetap bergegas pergi. Berapa saat kemudian, Aldi keluar dari kamar mandi. Aldi melihat Nira sedang berbicara dengan seseorang yang berada dalam mobil dengan kaca yang terbuka. Kemudian, Nira masuk ke mobil hitam itu dan bergegas pergi. Hey! Gue nggak dianggap? Dia pergi seenaknya aja! Dumelnya dalam hati. Nira berada dalam mobil bersama Dino. Wajahnya termenung menatap jendela mobil.
"lu boleh kok cerita sama gue apapun masalah lu, dan gue berusaha akan bantu lu gimana pun caranya. Percaya deh" kata Dino yakin.
Nira mulai bercerita, Dino memang bisa memberikan solusi-solusi yang membuat Nira sedikit tenang. Seiring berjalannya waktu dan hari-hari, Nira jadi sering curhat dengan Dino. Ketika pulang sekolah dia lebih menunggu Dino menjemput ketimbang mencari Aldi dulu. Hubungan Nira dan Aldi malah menjadi jauh. Hampir setiap malam Dino mengajak Nira dan Dio keluar rumah untuk makan malam di luar. Nira dan Dio sama-sama menyukai pamannya ini. Tapi Nira memiliki senyum yang berbeda ketika menatap Dino.
"kamu ini gimana sih, itu tandanya Dino kan sayang sama keponakannya. Jadi pacarmu suka main ke sini ya? Untung ada Dino bisa batasin kamu! Awas ya kamu kalo macem-macem" Nira jadi badmood, dia masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut karena malahan papa menambahkan mandat kepada Dino. Dino menyusul Nira ke kamarnya. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur Nira dengan amat tenang. Awalnya Dino minta maaf, dan itu sempat membuat Nira luluh. Tapi Dino membuat kesepakatan dengan Nira kalau dia tetap di atur oleh Dino, dia akan membebaskan Nira dengan Aldi tapi tetap mereka harus ingat batasannya. Dengan bujukan dan rayuan maut akhirnya Nira setuju.
"Yauda kalo gitu kamu tidur, ini udah malem nanti cantiknya berkurang lho" ucap Dino sembari tertawa kecil.
"heh! Kok lu jadi gombal sih. Wahhh... " Dino hanya tersenyum dan mengusap kepala Nira. Dino tersenyum manis sekali pagi itu sesaat Nira meninggalkan mobil Dino untuk berjalan menuju kelasnya. Nira suka berfikir kalo diliat-liat Dino lumayan juga tapi sayang dia pamannya Nira, kalo nggak udah diembad kali. Di kelas, Vera ngadu soal Ghea anak kelas 11, mantannya Aldi yang tadi ngobrol berdua di kelas Ghea. Nira jadi panas, karena dia nggak pernah berfikir Aldi mau masuk kelas Ghea setelah lama mereka sudah tidak berkomunikasi apapun. Sekejab mood Nira jadi rusak. Saat istirahat pun Nira tidak ke kantin. Pulang sekolah, Nira buru-buru menelpon Dino menyuruhnya untuk cepat menjemput. Sekarang gaya bicara mereka sudah nggak seformal biasanya. Vera menghampiri Nira untuk memberitahu keberadaan Aldi, karena Nira terlihat seperti sedang menunggu orang. Kemudian Vera pergi, sesaat Aldi datang dari lapangan futsal menghampiri Nira. Tubuhnya yang penuh keringat membuat Nira berfikir untuk mengelap keringatnya tapi berhubung dia lagi bete jadi males deh.
"hay, sayang. Nungguin aku ya, sebentar ya aku ganti baju dulu abis itu anter kamu pulang" kata Aldi yang kemudian berlalu. Nira sempat mencegahnya namun Aldi tetap bergegas pergi. Berapa saat kemudian, Aldi keluar dari kamar mandi. Aldi melihat Nira sedang berbicara dengan seseorang yang berada dalam mobil dengan kaca yang terbuka. Kemudian, Nira masuk ke mobil hitam itu dan bergegas pergi. Hey! Gue nggak dianggap? Dia pergi seenaknya aja! Dumelnya dalam hati. Nira berada dalam mobil bersama Dino. Wajahnya termenung menatap jendela mobil.
"lu boleh kok cerita sama gue apapun masalah lu, dan gue berusaha akan bantu lu gimana pun caranya. Percaya deh" kata Dino yakin.
Nira mulai bercerita, Dino memang bisa memberikan solusi-solusi yang membuat Nira sedikit tenang. Seiring berjalannya waktu dan hari-hari, Nira jadi sering curhat dengan Dino. Ketika pulang sekolah dia lebih menunggu Dino menjemput ketimbang mencari Aldi dulu. Hubungan Nira dan Aldi malah menjadi jauh. Hampir setiap malam Dino mengajak Nira dan Dio keluar rumah untuk makan malam di luar. Nira dan Dio sama-sama menyukai pamannya ini. Tapi Nira memiliki senyum yang berbeda ketika menatap Dino.
Keesokan harinya, Dino menuju sekolah Dio untuk menjemputnya. Dino pontang-panting nyariin Dio ke sekolah karena anak itu sudah dijemput seseorang kata satpam. Dia pulang dengan rasa kecewa ditambah lagi Nira yang nggak bisa dihubungi. Malam pukul 11, Dino baru pulang dari rumah Vera. Dia tak menemukan Nira ataupun Dio. Dia berfikir untuk mencari dulu sebelum menghubungi kakaknya ataupun polisi. Ia merasa bersalah karena tidak menuruti permintaan keponakannya untuk ke Bali menemui papanya. Perlahan ia memasuki kamarnya yang gelap itu, ia melirik jam sudah pukul 00.02. Padahal ia mau mengajak Nira dan Dio masak bersama karena ini ulang tahunnya tapi mereka malah menghilang begini. Dino yakin Dio ada sama Nira, karena perasaannya mengatakan dua anak itu saat ini baik-baik saja. Tak lama kemudian, dari sisi tempat tidur terdengar suara. Teriakan selamat ulang tahun dari keponakannya sambil tertawa-tawa. Nira memegang kue kecil yang mereka buat tadi saat Dino pergi keluar rumah mencari mereka. Bibi pun disuruh diam dan nggak boleh ngelapor sama Dino. Dino mencium Dio, lalu disusul mencium kening Nira. Mereka bercerita dari awal mereka tau ulang tahun Dino hari ini sampai kejadian ini, sampai akhirnya mereka tertidur di sofa saat menonton video bisnis baru papa yang di kirim ke ponsel Dino. Nira tidur tepat di dada kanan Dino, sedangkan Dio tertidur dengan kepala berada di pangkuan Dino. Pagi hari pukul 8, Nira mendapati wajah Dino sedekat itu dengannya. Oops, Nira deg-degan. Telpon Dino berdering, membuat Dino terbangun. Dia mendapati Nira sedang memandanginya, tapi langsung berpaling mengangkat telpon. Setelah telepon selesai, Nira bangkit dari posisinya tapi Dino masih main dengan ponselnya. Siangnya, Fian temen kuliah Dino datang untuk mengambil dvd. Fian masuk ke kamar Dino dan asyik ngobrol di sana. Fian yang tadi melihat Nira saat membuka pintu minta ke Dino untuk ngenalin dia ke keponakannya itu. Setelah dikenalin dengan Nira, Fian jadi ngobrol sama Nira dan melupakan Dino. Malam hari setelah Fian pulang, Nira masuk ke kamar Dino sambil nangis. Nira memeluk Dino dan mulai bercerita. Barusan ia mendapat kabar Aldi jadian sama Ghea tanpa putus dulu dari Nira. Aldi bilang selama ini udah nganggep Nira ngga ada.
Di sekolah, Nira sudah nggak lagi berhubungan dengan Aldi tapi suatu malam Aldi datang ke rumah Nira, Nira memperbolehkannya masuk hanya sampai teras. Aldi memeluk Nira paksa, dan meminta Nira kembali padanya karena dia menyesal lebih memilih Ghea. Melihat itu, Dino buru-buru keluar dari mobil dan merenggangkan pelukan Aldi. Menghajar Aldi karena udah sering bikin Nira nangis. Nira teriak nggak karuan melihat Dino begitu anarkis. Dino mengusir Aldi dan menarik Nira ke dalam rumah. Nira marah-marah karena Dino memukul Aldi tapi Dino lebih marah lagi..
"gue gasuka dia peluk lu sembarangan! Sadar gak lu udah berapa kali nangis gara-gara dia dan lari ke gue? Nir, gue gamau lu nangis lagi sakit tau nggak sih liatnya. Lebih baik lu pukul gue berkali-kali biar rasa kesel lu ilang daripada gue harus liat lu nangis-nangis terus!!" pernyataan itu nyaris bikin Nira pingsan. Segitu perhatiannya Dino sama dia. Tapi pikiran itu akhirnya berubah ketika Dino mencium bibir Nira sekilas dengan lembut. Nira jelas kaget!!!!
"gue sayang sama lu bukan sebagai om dan keponakannya. Gue sayang sama lu karena lu spesial buat gue. Tau betapa nggak relanya gue Fian jadi sering ke sini ketemu lu, tau betapa pengen gue bunuh si Aldi pas lu lagi meluk gue sambil nangis karena dia. Semua itu karena gue punya perasaan lebih yang sulit gue ngerti karena kita sedarah. Ngga seharusnya ini terjadi, tapi gue akui gue nggak mau lu lepas dari pelukan gue dan memeluk orang lain selain gue!" katanya dengan lembut. Jantung Nira sebentar lagi akan copot. Tapi Nira juga ngerasain yang sama, dia melihat Dino nggak seperti dia melihat paman-pamannya yang lain. Semalaman Nira nggak bisa tidur dengan kejadian tadi apalagi pas Dino sekilas menciumnya. Esok paginya, Dino sudah duduk di kursi makan untuk sarapan. Saat Dino dan Nira tabrakan mata mereka jadi canggung dan merasa gugup.
"ayo Om Dino, nanti Dio telat" kata Dio memecahkan keheningan.
"ayo Nir" ajak Dino. Hari ini untuk pertama kali Nira memilih duduk di belakang dan Dio disuruh duduk depan. Dia berdiam diri selama perjalanan bahkan setelah ia turun dari mobil. Pulang sekolah, ia hanya mengirim pesan singkat 'jemput' untuk Dino. Di rumah pun Nira seharian di kamar, hanya turun ke lantai bawah untuk makan. Ini berlangsung hampir seminggu, Nira hanya akan bicara pada Dino jika ada yang penting. Ini malam minggu, nggak seperti biasanya hari ini Nira nggak keluar rumah. Setelah makan malam Nira masuk ke kamarnya, tapi disusul oleh Dino yang langsung menutup pintu kamar Nira sesaat Nira akan masuk. Dino terus-terusan bertanya kenapa Nira tidak bicara dengannya. Setelah lama akhirnya Nira bilang.
"gue juga punya rasa yang sama Din! Tapi lu ini om gue. Lu adiknya papa, nggak mungkin kita itu bersama! Gue coba jauhin lu biar ngelupain semua rasa gue. Kita ini salah DINO!! " jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"iya gue tau. Tapi ngga ada yang bisa larang orang jatuh cinta kan? Kalo gue suka sama lu, terus kenapa?"
"kita ini punya darah yang sama. Gue ini punya keturunan darah dari lu. Lu ngerti nggak sih Din?"
"kalian saling menyukai???" suara itu!!! Papa berdiri tepat di ujung tangga. Sejak awal dia mendengar percakapan dua orang yang sedang dimabuk asmara yang salah. Emang salah kayanya membiarkan mereka berdua sering bersama, tapi papa tidak menyadari karena mereka itu kan paman dan keponakan. Papa akhirnya menyuruh Dino mencari tempat kos dekat kampus dengan catatan Dino masih tanggung jawab papa. Papa membatasi pertemuan Dino dan Nira sampai mereka menyadari rasa yang mereka miliki adalah salah. Berapa tahun kemudian, Nira dan keluarga kecilnya menghadiri wisuda Dino. Setelah acara selesai, Dino membawa seorang gadis ke hadapan papa.
"ini Alexa. Dia pacar Dino, kak. Udah jalan 3 bulan." katanya sambil tersenyum. Papa tersenyum bangga karena Dino membuktikan rasa yang waktu itu pernah hadir untuk Nira adalah salah. Kalau Nira sih udah sejak setahun yang lalu jadi pacarnya Fian.
"gue gasuka dia peluk lu sembarangan! Sadar gak lu udah berapa kali nangis gara-gara dia dan lari ke gue? Nir, gue gamau lu nangis lagi sakit tau nggak sih liatnya. Lebih baik lu pukul gue berkali-kali biar rasa kesel lu ilang daripada gue harus liat lu nangis-nangis terus!!" pernyataan itu nyaris bikin Nira pingsan. Segitu perhatiannya Dino sama dia. Tapi pikiran itu akhirnya berubah ketika Dino mencium bibir Nira sekilas dengan lembut. Nira jelas kaget!!!!
"gue sayang sama lu bukan sebagai om dan keponakannya. Gue sayang sama lu karena lu spesial buat gue. Tau betapa nggak relanya gue Fian jadi sering ke sini ketemu lu, tau betapa pengen gue bunuh si Aldi pas lu lagi meluk gue sambil nangis karena dia. Semua itu karena gue punya perasaan lebih yang sulit gue ngerti karena kita sedarah. Ngga seharusnya ini terjadi, tapi gue akui gue nggak mau lu lepas dari pelukan gue dan memeluk orang lain selain gue!" katanya dengan lembut. Jantung Nira sebentar lagi akan copot. Tapi Nira juga ngerasain yang sama, dia melihat Dino nggak seperti dia melihat paman-pamannya yang lain. Semalaman Nira nggak bisa tidur dengan kejadian tadi apalagi pas Dino sekilas menciumnya. Esok paginya, Dino sudah duduk di kursi makan untuk sarapan. Saat Dino dan Nira tabrakan mata mereka jadi canggung dan merasa gugup.
"ayo Om Dino, nanti Dio telat" kata Dio memecahkan keheningan.
"ayo Nir" ajak Dino. Hari ini untuk pertama kali Nira memilih duduk di belakang dan Dio disuruh duduk depan. Dia berdiam diri selama perjalanan bahkan setelah ia turun dari mobil. Pulang sekolah, ia hanya mengirim pesan singkat 'jemput' untuk Dino. Di rumah pun Nira seharian di kamar, hanya turun ke lantai bawah untuk makan. Ini berlangsung hampir seminggu, Nira hanya akan bicara pada Dino jika ada yang penting. Ini malam minggu, nggak seperti biasanya hari ini Nira nggak keluar rumah. Setelah makan malam Nira masuk ke kamarnya, tapi disusul oleh Dino yang langsung menutup pintu kamar Nira sesaat Nira akan masuk. Dino terus-terusan bertanya kenapa Nira tidak bicara dengannya. Setelah lama akhirnya Nira bilang.
"gue juga punya rasa yang sama Din! Tapi lu ini om gue. Lu adiknya papa, nggak mungkin kita itu bersama! Gue coba jauhin lu biar ngelupain semua rasa gue. Kita ini salah DINO!! " jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"iya gue tau. Tapi ngga ada yang bisa larang orang jatuh cinta kan? Kalo gue suka sama lu, terus kenapa?"
"kita ini punya darah yang sama. Gue ini punya keturunan darah dari lu. Lu ngerti nggak sih Din?"
"kalian saling menyukai???" suara itu!!! Papa berdiri tepat di ujung tangga. Sejak awal dia mendengar percakapan dua orang yang sedang dimabuk asmara yang salah. Emang salah kayanya membiarkan mereka berdua sering bersama, tapi papa tidak menyadari karena mereka itu kan paman dan keponakan. Papa akhirnya menyuruh Dino mencari tempat kos dekat kampus dengan catatan Dino masih tanggung jawab papa. Papa membatasi pertemuan Dino dan Nira sampai mereka menyadari rasa yang mereka miliki adalah salah. Berapa tahun kemudian, Nira dan keluarga kecilnya menghadiri wisuda Dino. Setelah acara selesai, Dino membawa seorang gadis ke hadapan papa.
"ini Alexa. Dia pacar Dino, kak. Udah jalan 3 bulan." katanya sambil tersenyum. Papa tersenyum bangga karena Dino membuktikan rasa yang waktu itu pernah hadir untuk Nira adalah salah. Kalau Nira sih udah sejak setahun yang lalu jadi pacarnya Fian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar